Ruang Tengah

Archives

  • October 2026
  • February 2026
  • November 2025
  • October 2025
  • June 2025
  • March 2025

Categories

  • Uncategorized
Rumah yang Pelan-Pelan Menjadi Rumah
  • October 27, 2026
  • 14 views
BAKSO MOTOR VS BAKSO GEROBAK
  • October 27, 2026
  • 9 views
Cinta Ibu yang tak pernah basi
  • October 23, 2026
  • 31 views
Latung Bombo, Rasa Kampung yang Kini Jadi Privilege
  • February 26, 2026
  • 353 views
  • 1 share
Cerita Saya Meninggalkan Pembalut Sekali Pakai
  • November 7, 2025
  • 279 views
Subscribe
Ruang Tengah Ruang Tengah
Ruang Tengah
  • Uncategorized

5+1 ALASAN SAYA SUKA TENTANG MTL

  • admin
  • October 27, 2026
  • No comments
  • 6 views
  • 6 minute read
Total
0
Shares
0
0
0


Saya terbilang sangat terlambat mengenal Music Travel Love. Berawal dari adik ipar saya, Palmi yang sering memutarkan “you are my sunshine” sebagai lagu pengantar tidur anak saya yang 2 tahun, Jilis melalui ponselnya dan disambungkan dengan speaker. Sayup-sayup bisa terdeteksi suara ombak  seolah-olah mengalun seirama petikan gitar. Memang bisa bikin menguap.

Menurut Palmi lagu ini cukup rame di Tik Tok namun lupa siapa nama kedua cowok ganteng tersebut. Terdorong oleh keinginan luhur rasa penasaran, saya memilih buka youtube untuk melihat seperti apa sebenarnya video lagu yang aslinya dipopulerkan oleh Johnny Cash pada 1989 ini. Klip musik sederhana itu menampilkan dua orang pria memetik gitar di sebuah pantai berpasir putih yang bersih dan indah. Kok berasa kenal ya? Kayaknya pernah lihat di mana….

Tunggu dulu.. ini salah satunya adalah…sepupu saya… Vodi, is that you? Rasanya kemarin baru ketemu namun kok sekarang jago begini main gitarnya?

Yang satunya itu siapa? Kedua cowok ganteng ini sepertinya kembar. Gila mirip sekali.

Sepersedkian detik kemudian…

Oh MAI GAD!

INI KAN SI KEMBAR THE MOFFATS???!!

Pantasan berasa kenal.

Setelah momen aha! yang cukup dramatis itu saya mencari tahu lebih dalam lagi tentang duo pecahan band keluarga berkebangsaan Canada tersebut.



Tanpa sadar, seluruh video lagunya sudah terunduh dalam sebuah folder khusus, tersalin juga dalam sebuah flashdisc.

Ternyata sudah banyak lagu-lagunya dan semuanya bagus!



Berikut lima plus satu alasan mengapa saya menjadi penggemar berat Music Travel Love

#1 Nostalgia

Music Travel Love otomatis mengingatkan saya pada The Moffats dan saya pun bernostalgia. Band keluarga beranggotakan empat (4) orang anak keluarga Moffats ini pernah menjadi idola angkatan saya. Lagu-lagu mereka I miss you like crazy pernah bikin kami anak-anak cewek SMA benar-benar krezi. Berkhayal menjadi pacar Scott, Dave, Bob dan Clint Moffats.

Saat tinggal di asrama Putri Syudardikara (Trikara) Ende, kami sering bernyanyi bersama di asrama, indoor maupun outdoor. Lagu-lagu apa saja yang sedang hits atau kami sukai. Saat berjalan kaki bergerombol pulang misa pagi dari Kapela dan ada ada yang memulai sebuah nyanyian biasanya otomatis langsung ditimpali dengan beberapa teman lain. Akan ada pembagian suara sopran, alto bahkan tenor (paling jago oleh teman-teman mantan anak SMP Kartini Mataloko). Jika di ruang belajar dan momen nyanyi bersama ini terjadi, selalu ada tukang pukul meja seolah-olah drummer yang memukul meja dengan telapak tangan dengan ketukan dan tempo yang pas dengan lagu yang sedang dinyanyikan.



Adalah Eka Parera, sahabat saya yang lincah. Satu asrama tahu, Eka adalah penggemar berat The Moffats. Pada dinding kepala tempat tidurnya ada gambar Yesus poster The Moffats berukuran 50×80 cm. Kaset, CD dan VCD konser koleksinya lengkap dan disimpan rapi. Tidak mudah meminjam koleksinya, sebab itu semua adalah harta berharga. Termasuk catatan buku lirik lagu. Tapi yang terkhir ini rata-rata pada punya.



Berdasarkan hasil permenungan saya, definisi buku lagu adalah buku berisikan catatan lirik lagu yang diperoleh dari menyadur rubrik lagu majalah Anita atau Kawanku, sadur dari buku lirik lagu orang lain atau hasil rangkuman corat coret setelah berkali-kali menekan tombol play, pause dan rewind pada walkman pinjaman.



Untuk lagu berbahasa Inggris banyak juga kata/frasa asal-asalan. Tak apa, asal mirip, nanti bisa dibuat samar-samar saja saat bernyanyi.

Saya masih ingat beberapa bagian lirik dari lagu-lagu The Moffats yang hits. Sebut saja selain I miss you like crazy, ada If life is so short, trus ada Misery.



Kembali lagi ke Music Travel Love

#2 Musisi yang Low profile

Bob dan Clint Moffats sebagai duo Band acoustic ini ternyata telah lebih dari sekali berganti nama. Dari Same Same, Pusch, The Boston Post, Hidell, Bob & Clint, Two Bullet Parade, Like Strangers, Endless Summer, kemudian (semoga) yang  terakhir adalah Music Travel Love.

Ini kan semacam tidak mempunyai jati diri tak berpendirian, tak berkepribadian, tak berintegritas, mana komitmenmu, hah?!  konsisten.

Semoga Music Travel Love tidak berubah nama lagi hanya karena pandemi dan tidak bisa travelling. Kan tidak lucu kalo berubah jadi Music From Home Love, disingkat MFHL. Untung saja mereka berdua ganteng, kalau tidak bisa jadi MTL akan kehilangan satu fan terbaik (hah terbaik?) mereka yang bermutasi menjadi fans yang biasa sa…. Tidak ee sa tipu. I still love you much, Bob…

Bagi saya pribadi, dari semua band/musisi yang cover music, MTL adalah band yang keren dan spesial. Suara mereka bagus dan menyanyi dengan porsi yang tepat. Tidak ada vibrasi berlebihan yang dipaksakan hanya untuk menunjukkan bahwa suara mereka bagus. Kalau mau tambah “uooouuooo” tidak banyak-banyak, hanya seperlunya saja.  Hal ini sekali lagi membenarkan teori bahwa secukupnya adalah yang terbaik. Saya rasa berlaku juga untuk musik. MTL menyajikan musik dan lagu yang pas. Meski didengarkan atau ditonton berkali-kali, saya tidak begah.



Mereka juga tidak sombong (ih tau dari mana?). Buktinya bisa diperhatikan dalam klip musik mereka. Kostumnya begitu-begitu saja, baju kaos biasa atau hem dengan celana chinos . Topinya tidak cuci ganti-ganti. Si Bob topinya yang ada tulisan angka “615” sedangkan si Clint topinya hitam ada tanda merk kalau tidak salah yang berwarna putih. Kesan seperti ini memang secara tidak langsung juga bisa menggambarkan profil mereka. Walalupun mungkin saja baju kaos oblong garis-garis Bob yang dipakai di lagu Body Like a Backroad pesannya custom dengan harga 10 kali lipat dari kaos biasa. Who knows? Padahal macam baju kaos tahanan atau bandit di cerita komik.

Video mereka sepintas sederhana dengan asesoris gitar akustik yang sama. Eh tapi sebenarnya iseng-iseng bapa Jilis cek harga headphone yang kira-kira mereka dua sering pakai di Amazon. Harganya gila. Kalau belinya cash tapi dengan uang kredit, dijamin jangka waktu cicilannya panjangnya bukan kepalang. Tapi sudahlah ada harga, ada mutu. Masa MTL pake headset yang bisa order di toko online trus bayar CoD?



#3 Living inside music 

Kualitas musik tak perlu lah saya obrolkan di sini. MTL adalah musisi hebat yang bertalenta. Saya menduga, aktifitas bermusik merek bukan sekedar untuk cari uang dan bayar cicilan. Musik bagi Clint dan Bob adalah hidup. Music has been flowing in their blood, they have been living inside music. Terlihat jelas sekali kalau lihat ekspresi mereka bernyanyi. Menikmati, sungguh-sungguh, tidak mengernyit berlebihan. Kalau tutup mata tidak seperti menutup dengan erat. Saya yang nonton ikutan rileks dan menghayati. Coba nonton Grandpa atau Mandolin Rain. Atau saya saja yang berlebihan menganalisa. Mungkin karena mereka sudah puas dengan hingar bingar industri musik di era 90-an di mana mereka konser di pangung besar atau world tour. IMHO, saat mereka memutuskan membuat proyek music cover around the world, the twin is at their best! Inilah kejayaan mereka sesungguhnya.



#4 Video musik yang kreatif dan orisinal serta Tim yang baik

Tema covering around the world memang ide yang kreatif namun sebenarnya risky. Untunglah mereka modal kuat karena memang mereka artis sukses dari kecil. Saat pandemi seperti ini tentu saja bikin video baru banyak pertimbangan. Tapi ya tak apa my lov, kami cukup puas nonton video-video sebelumnya. Frankly speaking, banyak musik atau cover lagu yang betul betul hanya enak didengarkan, tapi hilang selera untuk ditonton. Paras elok model klip/musisi/ penyanyi tak menjamin video lagu sukses. Tapi bagi saya nonton MTL tidak membosankan. Mungkin karena tempat dan latar videonya. Seperti virtual travel. Papa Muda Clint dan Om Bob sadar betul bahwa meski mereka ganteng, tapi bagi para wanita yang menonton tetap merasa pasangan mereka adalah orang terganteng sejagad raya (encookk). Seganteng-gantengnya duo satria bergitar pria ini tak ada gunanya jika tak bisa dimiliki. (ikh geli sendiri tulis ini). Makanya mereka berdua tidak mau kamera ambil gambar hanya tunjuk mereka dua punya muka senjang durasi lagu.

Sebagai pelaku industri musik dunia, tentu saja mereka harus menjaga etika. Tema musik mereka original. Dalam bayangan saya, si kembar ini pantang sekali meniru apalagi melakukan plagiarisme. Patut dicontoh ini…

Rekam lagu live di alam terbuka adalah tantangan tersendiri. Berbagai macam suara dan bunyi-bunyian tak difilter sehingga justru membuat musik itu tambah merdu. Pandai sekali mereka mengaransemen musik yang harmonis.



Semua keunggulan ini juga dilengkapi dengan pemilihan latar klip musik yang pas dengan lagu. Misalnya lagu Ring of fire. Videonya di Bali berlatar pemandangan gunung Agung. Ikh kok pintar ya, tau aja daerah seputaran adalah darah cincin api. (Minta no WA mama di Canada, mau tanya dikasih makan apa waktu kecil).

Bob dan Clint tidak mungkin berkerja berdua, pasti punya tim yang hebat yang bisa menerjemahkan idealisme bermusik mereka.

#5 Family friendly.

Ini sungguh pendapat yang subyektif. Mungkin genre musik dan konten videonya memang dibuat untuk semua kalangan usia. Mulai dari anak-anak sampe yang tua. Musiknya ramah telinga. Dan videonya tidak perlu sensor. Lau-lagu cover pilihan bervariasi, dari yang golden memories, Britney Spears sampai lagunya Ed Sheeran. Anak saya, Jilis (2 tahun) suka sekali nonton MTL. Bahkan sudah bisa mengenal lagu-lagu mereka jika diputarkan acak.

Apalagi jika kami berdua menonton bersama. Jilis pasti duduk di pangkuan, mama pun turut berdendang, mengikuti lagu yang sedang diputar (ehem).

+1 alasan: Si Bob mirip Vodi

Saya punya sepupu, namanya Vodi, seringnya disapa Ondik.

Ondik adalah ayah dari Joje (yang nama aslinya Pedro), sehingga kadang kami memanggilnya dengan Bapa Joje atau Ema Joje.

Entah mengapa saya merasa Ondik ini wajahnya mirip dengan Bob Moffats. Ya 11/12 –lah. Bedanya Ondik ini tak bisa main gitar. Dan dia pemalu. Selain wajahnya yang mirip alias kw01, Ema Joje ini juga senang dan selalu pakai topi ke belakang seperti si Bob Moffats.

Beberapa waktu yang lalu Om Ondik berkunjung. Tiba-tiba Jilis menyambutnya dengan girang, kemudian menatap terpana.

“Siapakah aku ini sehingga Bob Moffats mengunjungi aku?”

Tak lama kemudian tangan kecilnya menggenggam jemari pamannya kemudian mengajaknya menonton salah satu lagu MTL yang kebetulan sedang dimainkan di tv.

Kami turut senang, Jilis bertemu penyanyi kesukaannya meskipun kw01.































Post Views: 6
Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Pin it 0
admin

Ruang Tengah is a storyteller of the everyday — turning random moments and personal reflections into thoughtful narratives. Between movie nights and the hum of radio tunes, they find meaning in the mundane and joy in sharing it with others.

Previous Article
  • Uncategorized

Cinta Ibu yang tak pernah basi

  • admin
  • October 23, 2026
View Post
Next Article
  • Uncategorized

BAKSO MOTOR VS BAKSO GEROBAK

  • admin
  • October 27, 2026
View Post
You May Also Like
View Post
  • 14
  • Uncategorized

Rumah yang Pelan-Pelan Menjadi Rumah

  • October 27, 2026
  • No comments
View Post
  • 9
  • Uncategorized

BAKSO MOTOR VS BAKSO GEROBAK

  • October 27, 2026
  • No comments
View Post
  • 31
  • Uncategorized

Cinta Ibu yang tak pernah basi

  • October 23, 2026
  • No comments
View Post
  • 353
  • Uncategorized

Latung Bombo, Rasa Kampung yang Kini Jadi Privilege

  • February 26, 2026
  • No comments
View Post
  • 279
  • Uncategorized

Cerita Saya Meninggalkan Pembalut Sekali Pakai

  • November 7, 2025
  • No comments
View Post
  • 281
  • Uncategorized

Radio: Teman Lama yang Tak Pernah Pergi

  • November 4, 2025
  • No comments
View Post
  • 640
  • Uncategorized

Yang kami lakukan hanyalah berani memulai, selebihnya menyerahkan pada penyelenggaraan Ilahi

  • October 31, 2025
  • No comments
View Post
  • 209
  • Uncategorized

Seperti kisah Chicken Soup for the soul-doa doa yang terkabul

  • June 13, 2025
  • No comments

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ruang Tengah Ruang Tengah
cerita apa adanya

Input your search keywords and press Enter.

Go to mobile version