Rumah yang Pelan-Pelan Menjadi Rumah


Hari Sabtu, Tanggal 6 Juni 2026 kami mengadakan acara adat lonto mbaru. Secara resmi kami menempati rumah baru kami.
Senang dan terharu. Hati penuh dengan rasa syukur.

Keluarga dan kerabat dekat diundang untuk ikut merestui kami bertiga menempati rumah baru.

Acara adat berlagsung sederhana namun hikmad dan berkesan. dua malam pertama beberapa kerabat dari kampung ikut menginap. Senang sekali rasanya.
Setelah beberapa hari, kami betul-betul menyadari bahwa sebenarnya kami sudah berada di rumah sendiri. Rasa syukur menyelinap Bersama dengan perasaan haru dan takjub.

Ingatan saya sempat kembali ke masa ketika rumah masih berupa rencana, gambar, dan bangunan yang belum selesai. Kadang masih tidak percaya bahwa ternyata mimpi kami terwujud meski dengan lika liku dan perjuangan yang penuh dinamika. Kadang kami tertawa karena utang belum lunas dan keuangan yang tersendat. Tapi selebihnya hanya ada rasa syukur.

Kamar dan dapur serta tuang tengah langsung kami gunakan. Kecuali lantai 2 yang direncanakan untuk ruang kerja. Perabot yang belum lengkap terntu saja membuat ruangan tamu dan ruang tengah terasa lengang. Tai dari awal kami memang berencana untuk berhati-hati sekali membeli perabot. Selain karena kondisi keuangan yang perlu rehat 🙂 kami juga merasa bahwa perlu menunggu beberapa saat sampai kami benar-benar tahu perabot seperti apa yang pas dengan kebutuhan dan kondisi ruangan.

Pertama kali tidur di rumah baru langsung nyenyak, mungkin karena bahagia :-). Rumah baru perlahan-lahan terasa hidup melalui kegiatan sehari-hari: memasak, minum kopi, membersihkan halaman, menanam bunga, menata perabot, atau berbincang bersama.

Ada pagi (kadang malam sebelum tidur) di mana saya berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, memperhatikan hal-hal yang beberapa bulan sebelumnya masih berupa pekerjaan tukang. Rumah ini belum sepenuhnya selesai. Masih ada yang harus dibenahi, masih ada barang yang belum menemukan tempatnya. Namun, momen itu saya menyadari satu hal: kami sudah benar-benar tinggal di sini.

Rumah mungkin belum sempurna, belum memiliki semua perabot yang diinginkan, dan ternyata masih membutuhkan banyak pembenahan. Namun, rumah ini menjadi tempat tinggal kami menjalani kehidupan, beristirahat, berbagi cerita, menghadapi kesulitan, dan merayakan hal-hal kecil.

Harapan ke depan tidak terlalu muluk, yang paling penting kami sekeluarga sehat dan lancar bayar angsuran kredit :-)dan semoga rumah ini selalu menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan, kasih sayang, dan kenangan baik
Selebihnya hanya TERIMA KASIH TUHAN.

Exit mobile version