“Kita cukup sudah cerita itu”, sudah sering saya bilang tiap kali kami cerita lagi tentang kisah kehidupan di asrama bapa Jilis di Seminari Loyola Labuan Bajo. Tapi selalu saja terulang lagi dan membuat mata saya berair.
Yohanes Jehabut, nama lengkap suami saya yang adalah bapanya Jilis. Panggilan kecilnya Yon, tetapi saat bekerja di Yogyakarta sebagai pemandu outbond, dalam tim mereka selalu menambahkan vie di belakang nama mereka. Jadilah dia disapa Yovie sampai sekarang.
Yovie menempuh Pendidikan menengah atas di Seminari Loyola Labuan bajo. Saat itu dia menerima beberapa beasiswa, karena selain secara akademik berprestasi, juga karena yatim.
Ibunya, Mama Agata yang adalah petani dan janda, merupakan sosok yang terlihat rapuh baik secara fisiknya yang kecil dan kurus, maupun secara emosional yang mudah sekali menangis. Entah darimana asalnya Mama Agata memebesarkan 5 orang anak laki-laki dengan watak yang keras.
Kisah mama Agata ini lain cerita.
Sebagai anak kampung dari keluarga miskin yang tinggal di asrama lain kabupaten dengan Waktu tempuh transposrtasi darat kira-kira 6 jam, mendapat kiriman oleh-oleh dari orang tua adalah sesuatu yang sangat istimewa.
Suatu hari seorang supir bis yang setiap hari beroperasi dr Borong-Labuan Bajo mengantarkan kiriman untuk Yovie. Senangnya. Perasaan membuncah. Saat dibuka, bingkisan itu mengeluarkan aroma yang tidak enak. Ternyata bingkisan itu adalah beberapa telur ayam kampung rebus, yang dibungkus dalam wadah yang sama dengan rebok. Ternyata sudah seminggu berlalu sejak kiriman itu dititipkan oleh Mama Agata. Alasan yang tidak pernah diketahui mengapa baru seminggu kemudian kiriman itu diantar.
Cinta ibu tidak bisa digambarkan dengan bahasa atau puisi apapun. Saya membayangkan Mama Agata merendam beras kemudian menumbuknya untuk menjadi tepung sebagai bahan rebok. Mama Agata mempertahankan beberapa butir telur dari ayam yang jarang bertelur. Atau mungkin dari satu-satunya induk ayam yang berhasil hidup. Pikiran saya otomatis seperti layer film tentang suasana saat peristiwa itu terjadi, dari sisi Mama Agata, dan juga Yovie. Saya merasa jengkel dengan sopir yang keterlaluan menunda kiriman itu sampai seminggu.
Telur rebus bisa busuk, rebok bisa berjamur, namun cinta ibu tak pernah basi.
Merasa hangat di hati sekaligus sedih.
Pertamakali mendengar cerita ini saya menangis sejadi-jadinya dan kemudian memeluk erat suami. Kali lain jika tidak sengaja ada obrolan tertentu yang membuat kisah ini kembali diceritakan, saya tetap menangis. Bahkan saat mengetik tulisan ini, bulir hangat terbit di mata.
Tuhan, berikan kami rejeki yang cukup untuk membangun kembali rumah kami di kampung, supaya Mama Agata merasakan tinggal di rumah yang bagus.
