Latung Bombo, Rasa Kampung yang Kini Jadi Privilege

sepiring latung bombo

Bicara tentang makanan tradisional favorit, saya langsug kepikiran Jagung Bose. Orang Manggarai juga punya nama khusus, untuk makanan khas dari jagung ini yaitu latung bombo. Makanan tradisonal ini ini memang termasuk makanan yang sangat sederhana, bisa dibilang masakan kampung. Tapi justru di situ letak spesialnya.

Latung bombo biasanya dibuat dari jagung pipil yang ditumbuk agak kasar, lalu dimasak dengan kacang kacang merah dan santan. Proses masaknya lumayan lama supaya jagungnya empuk dan rasanya menyatu. Bumbunya sangat sederhana, malah bisa diilang tanpa bumbu karena sifatnya opsional juga yaitu garam. Ada beberapa kombinasi campuran bahan yang bisa dimasak bersamaan misalnya ditambahkan ikan, sayuran, atau daging, plus sereh dan jahe untuk memperkaya rasa. Bisa juga campuran bahan ini dibuat terpisah, nanti saat disajikan baru ditambahkan sayuran tau berbagai lauk seperti ikan asin atau sambal.

Buat saya, latung bombo itu comfort food yang mengenyangkan dan bikin hangat.

Alasan saya suka latung bombo bukan cuma karena rasanya, tapi juga karena kenangannya. Biasanya makanan ini ada waktu kumpul keluarga atau acara tertentu. Jadi setiap makan latung bombo, rasanya kayak lagi nostalgia dan dekat sama suasana rumah.

IMHO latung bombo bukan sekadar makanan tradisional. Ini bagian dari identitas dan cerita tentang kehidupan masyarakat Manggarai yang sederhana tapi penuh makna. Dan semoga saja makanan seperti ini tetap dikenal dan dan tidak kalah sama makanan modern.

Saat ini sudah jarang sekali orang masak latung bombo. Jagung pipil sudah jarang diproduksi. Mungkin karena jaman sudah berubah. Dahulu jagung adalah bagian makanan pokok, tapi sekarang, bahan pokok adalah beras. Jagung dengan aneka varietas masuk ke jenis makanan untuk snack. Harga jagung juga lebih mahal daripada beras. Jagung sudah menjadi privilege. Hanya orang yang punya kebun jagung sendiri dan punya uang dan mau untuk beli jagung saja. Jagung bukan kebutuhan primer lagi.

Belakangan saya sering masak latung bombo meski harus beli jagung pipil pulut (putih) di pasar Labuan Bajo. Harganya Rp 20.000,- per kilogram. Untuk 1 kilogram jagung, sudah bisa dapat 1 dandang besar latung bombo, apalagi jika dimasak bersama kacang merah atau kacang tanah. Saat memasak gunakan api kecil. Enaknya sekarang jagung pipil dari pasar sudah bersih sehingga siap diolah. Tinggal cuci dan langsung dimasak. Masaknya juga tidak butuh sehari semalam seperti proses masak jaman dulu. Seingat saya dulu untuk memudahkan masak bombo, jagungnya harus direndam dulu sehari semalam biar kayu bakar tidak habis hanya untuk memasak butiran jagung yang tua dan keras menjadi pangan yang lembut untuk dikonsumsi.

Salah satu fakta yang cukup mengejutkan untuk saya, bahwa di tahun 2026 saya mendapati ada orang Ruteng (umur 30-an) yang tidak tahu seperti apa rasanya latung bombo. Memang merasa familiar dengan nama jagung bose (timor), tapi tidak sampai mencicipi. Hanya tau saja.
Jika umur dewasa tidak tau, bagaimana dengan anak-anak? Saya jadi teringat saat doa bersama di rumah saya Oktober tahun lalu. Saya hidangkan latung bombo dengan penuh percaya diri bahwa tamu akan menyukainya. Ternyata saya cukup kecewa, orang tua sebenarnya suka. Tapi tidak anak-anak. Bahkan salah satu anak tidak mau makan, karena katanya “haer roa” dengan penuh ekspesi jijik. Okaylah, lain kali biar snack kue saja.

*latung bombo (Manggarai): latung yang artinya jagung dan bombo bermakna utuh (kalau tidak salah, masih dicari padanan yang tepat)

*haer roa (Manggarai): seperti muntahan

Exit mobile version