Cerita Saya Meninggalkan Pembalut Sekali Pakai

Awal Mula: Penasaran di Sebuah Pameran

Suatu hari di tahun 2018, saya datang ke sebuah pameran (jujur, lupa juga pameran apa šŸ˜…). Di salah satu stan, saya melihat deretan barang-barang lucu dari kain: ada tas, dompet, dan… pembalut wanita kain!

Karena penasaran dan ingin sok-sokan ā€œmengubah gaya hidupā€, saya memutuskan untuk beli dan mencoba. Ternyata, semua kekhawatiran dan testimoni negatif yang pernah saya dengar tidak terbukti. Pembalut kain justru nyaman sekali, meski memang butuh sedikit usaha ekstra untuk urusan cuci mencuci. Tapi setelah terbiasa, malah terasa menyenangkan dan lebih ringan dijalani.

Sekilas Sejarah: Zaman Dulu Lebih Kreatif

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya pembalut kain bukan hal baru. Zaman mama saya dulu, mereka sudah diajarkan membuat pembalut sendiri di Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama (SKKP). Kain perca dijahit rapi jadi pembalut wanita.

Saat itu belum ada Protex, Charm, atau Laurier—apalagi dengan tagline seperti Extra Comfort, Safe Night, atau Cooling Fresh. Bisa menjahit dan membuat pembalut sendiri adalah sesuatu yang ā€œeksklusifā€, karena hanya mereka yang belajar di sekolah khusus milik para suster yang mendapat keterampilan itu.

Ketika Dunia Jadi Praktis

Lalu waktu berjalan. Teknologi dan gaya hidup berubah. Hadirlah pembalut sekali pakai—praktis, bersih, wangi, dan tampilannya modern. Bungkusnya menarik: bergambar wanita cantik berbaju putih tersenyum ke burung merpati (serius, kenapa harus merpati?).

Anak kecil pun jadi penasaran, dan iklannya di televisi mulai berlomba-lomba menonjolkan keunggulan daya serap dengan cairan biru legendaris itu. Lama-lama, pembalut kain dianggap kuno dan tidak praktis.

Sisi Lain Pembalut Sekali Pakai

Tapi kalau kita coba cari di internet, banyak tulisan dan riset yang membahas sisi lain pembalut sekali pakai—mulai dari bahan kimia yang bisa memicu iritasi kulit, sampai dampaknya bagi lingkungan karena limbahnya sulit terurai.

Saya mulai berpikir ulang. Awalnya bukan karena idealis atau ingin menyelamatkan bumi. Jujur saja, saya cuma ingin coba hal baru. Tapi sejak 2018 sampai sekarang, saya belum pernah beli pembalut sekali pakai lagi. Saya cukup berbangga dengan pencapaian ini.

Nyaman, Aman, dan Tenang

Sekarang, tiap kali menstruasi datang, saya tidak pernah panik lagi karena ā€œstok habisā€. Pembalut kain juga terasa lebih adem di kulit dan tidak bikin iritasi. Rasanya lebih alami, seperti tubuh dibiarkan bernapas dengan bebas.

Soal harga, memang agak mahal di awal. Tapi menurut saya worth it. Terakhir saya beli satu paket isi empat di Yayasan Ayo Indonesia Ruteng, lengkap dengan pouch kecil, harganya sekitar Rp120.000. Ā Sepertinya ada juga di minimart Koperasi Florette di Nekang Ruteng. Pilihan di took online juga banyak. Bahannya lembut, awet, dan bisa dipakai berulang kali.

Coba Dulu, Siapa Tahu Cocok 🌿

Buat kamu yang masih pakai pembalut sekali pakai, mungkin bisa coba dulu versi kainnya. Siapa tahu cocok. Kadang hal kecil seperti ini bisa membuka kesadaran baru — bukan cuma soal gaya hidup, tapi juga tentang bagaimana kita merawat tubuh dan bumi yang kita tinggali.

Exit mobile version