Radio: Teman Lama yang Tak Pernah Pergi

Ada satu kebiasaan yang tak pernah hilang dari hidup saya: mendengarkan radio.
Sejak kecil sampai sekarang, radio selalu hadir di berbagai fase hidup saya—dari masa kecil di rumah lama hingga masa kini.

Dulu, radio di rumah kami masih memakai baterai besar. Suaranya kadang berdesis, dan kami harus memutar tombol pelan-pelan agar menangkap gelombang Short Wave (SW) dengan jernih. Tapi di balik suara serak dan statis itu, ada kehangatan yang sulit dijelaskan.

Siaran radio waktu itu sederhana saja: informasi daerah, sandiwara radio yang ditunggu-tunggu, dan acara kirim lagu yang penuh pesan manis. Tapi bagi saya, semua itu terasa hangat. Radio seperti jendela kecil yang membuka dunia—menemani pagi, siang, dan malam kami.

Waktu berlalu. Dunia berubah cepat.
Sekarang radio sudah bisa diakses lewat internet, bahkan bisa streaming siaran dari luar negeri. Saya sendiri masih mendengarkannya sampai sekarang. Kadang lewat ponsel, kadang lewat speaker kecil di dapur. Dan entah kenapa, meski semuanya serba digital, sensasinya tetap sama: ada rasa dekat, ada teman bicara yang tak terlihat.

Saya pernah, di satu masa, menggapai impian menjadi penyiar radio. Bukan di stasiun besar, tapi di radio milik pemerintah kabupaten. Rasanya luar biasa—bisa berbicara di depan mikrofon, menyapa orang-orang yang tak saya kenal tapi terasa dekat. Ada kebanggaan tersendiri saat berbicara di depan mikrofon, menyapa pendengar yang tak saya kenal tapi terasa dekat. Suara saya mengudara, menemani orang lain yang mungkin sedang sendiri, bekerja, atau hanya ingin mendengar suara manusia lain. Itu salah satu kenangan yang sampai sekarang masih saya simpan seperti harta kecil dalam hidup saya.

Kalau ditanya kenapa saya masih suka mendengarkan radio, saya selalu bingung menjawabnya singkat.
Alasannya banyak—dan rasanya baru bisa dimengerti kalau sudah lama hidup bersama suara-suara itu. Mungkin karena nostalgia, mungkin karena kesederhanaannya, atau mungkin karena di balik setiap siaran ada manusia sungguhan yang berbicara, bukan algoritma.

Sekarang memang sudah ada Spotify dan aplikasi musik lain yang serba lengkap. Semua lagu ada di ujung jari. Tapi tetap saja, ada hal yang hilang: kejutan. Di radio, kita tidak pernah tahu lagu apa yang akan diputar berikutnya. Bisa jadi lagu lama yang sudah kita lupakan, atau lagu baru yang langsung jatuh di hati. Kadang penyiar berbicara hal remeh—tentang cuaca, film, atau kabar pagi—dan entah kenapa, itu menenangkan.

Saya sering mendengarkan radio sambil bekerja atau mengerjakan hal kecil di rumah. Kadang sambil menunggu cucian kering di mesin cuci, saya membuka aplikasi radio dan memilih saluran. Pernah, saat sedang iseng seperti itu, saya mengetik pertanyaan di Quora tentang orang-orang yang masih suka mendengarkan radio. Jawaban-jawabannya membuat saya tersenyum—ternyata masih banyak yang merasa sama.

Sekarang saya punya beberapa stasiun favorit: Smooth Radio dari Inggris, Antenne Bayern dari Jerman—meski saya tidak selalu mengerti bahasa mereka, tapi saya suka suasananya. Dari Indonesia, saya sering dengar Prambors, I-Radio, dan Jak FM. Setiap stasiun punya karakter, dan entah kenapa, masing-masing terasa seperti teman lama yang tahu kapan harus bicara dan kapan cukup menemani diam.

Radio, bagi saya, bukan sekadar alat.
Ia adalah teman perjalanan yang tak pernah benar-benar pergi. Suaranya menua bersama waktu, tapi hangatnya selalu sama—seperti sahabat yang tidak menuntut apa-apa, hanya hadir, dan membuat hari terasa lebih hidup. Bagi saya, radio bukan sekadar alat hiburan. Ia seperti teman lama yang selalu ada, bahkan saat dunia berubah. Suara penyiar, denting lagu, atau bahkan jeda di antara dua kalimat—semuanya menghadirkan rasa akrab yang tak bisa digantikan aplikasi apa pun.

Radio mengajarkan satu hal sederhana: bahwa kadang, suara manusia lebih menenangkan daripada keheningan yang sempurna.

Catatan ini dibuat pada Minggu, 15 September ‎2024

Exit mobile version